Selasa, 16 Mei 2017

Kembali ke zaman dulu

Halo teman teman , kali ini saya akan membagikan suatu cerita pendek yang mungkin dapat menghibur sekaligus memotivasi teman teman semua

SELAMAT MENIKMATI😊😊😊

           KEMBALI KE ZAMAN DULU

”Masa sih,Ma. Aini katanya enggak punya TV?Kan Media orang kaya?" kataku pada Mama di suatu sore.

Mama mengaduk-aduk tehnya. Lalu menye
Ruput sedikit.

”Oya?”alis Mama terangkat. '
Aku mengangguk kuat-kuat.

”Katanya lagi, Aini enggak kenal games yang segang ngetrend. Keluarga yang kuno kan, Ma? Ha ha ha... aku tertawa geli.

Mama hanya tersenyum kecil. Lalu menghabiskan browniesnya pelan-pelan.

Keesokan hari sepulang sekolah. aku terkejut setengah mati. TV tak ada lagi di ruang tengah.

”Ma..TV kita rusak, ya?" tanyaku.

Mama yang sedang sibuk memotong sayuran, menggeleng.
     ”Lo... Terus ke mana TV-nya? Aku mau nonton, Ma," kataku hampir menangis.

    ”Syifa, mulai sekarang, kamu nonton TV setiap Sabtu dan Minggu saja, ya. Sekarang bantu Mama jadi chef cilik,"ajak Mama. .

    Air mataku menggenang. Padahal aku buru buru pulang karena ingin menonton film favoritku. Ternyata Mama memberiku kejutan, yang sangat tidak enak.
   "Syifa nonton di rumah Merry saja," kataku dengan suara yang dikeraskan.               ”Sudah sore, nanti kamu pulangnya malam" jawab Mama.
    Huh... kenapa, sih, Mama enggak ngomong dulu kalau ada peraturan baru tak boleh nonton TV?Aku,kan, jadi mati gaya. Ya sudah, sambil menunggu papa pulang , aku main gagdet saja. Ada games memasak yang seru. Mending aku main game saja, daripada betul betul membantu mama. Aku tak kepanasan, dan bisa memasak menu sambil tiduran.
***
     Aku betul - betul kesal pada peraturan baru Mama. Papa tak mendukung agar TV kembali dinyalakan setiap hari.
     "Nilaimu mulai merosot, Syifa. Jadi, ikuti aturan baru Mama, ya, ”kata Papa.

Huh... Sekarang Papa malah membela Mama. Aku kembali menghabiskan waktu dengan gadget.
Lumayan naik beberapa level. Hmm... Games lebih menyenangkan daripada TV. Aku tidak rugi kehilangan TV.
     Ternyata kesenanganku hanya bertahan beberapa hari. Mama kembali menyita kesukaanku. Kali ini, gadgetku dipegang Mama. Hanya setiap ada pesan saja, Mama menyerahkan padaku. Setelah itu, disita lagi.

"Ma,kenapa sih, kejam sama anak sendiri? 'aku  mulai menangis.

  "ini semua demi kebaikanmu, "jawab Mama.  Aku tak berdaya. Hidup tanpa TV dan HP merupakan Siksaan buatku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Akhirnya aku lebih suka menggambar dan menyelesaikan tugas sekolahku. Lama-kelamaan, aku sudah biasa dengan suasana sunyi. Ajaib, aku enggak ngantuk lagi waktu bikin PR. Bangun tidur pun terasa segar

     Pulang sekolah, aku makan sambil membaca majalah anak. Setelah itu, istirahat sejenak dan bikin PR. Malamnya, aku menyelesaikan gambar-gambarku.mama bilang, bikin yang bagus. nanti,  akan mama kirim gambarku ke majalah.

  Sekarang musim ujian. Karena sudah belajar setiap hari, aku tidak kesulitan saat menjawab soal ujian.
  "Bagaimana ujianmu? " tanya Mama padaku sepulang sekolah.

"Aku bisa semua, Ma,”jawabku senang. "Syukurlah..." sahut Mama.

***
   Aku tercengang mendengar  namaku dipanggil Bu Rahmi ' sebagai juara 2.
  Juara 1 masih dipegang oleh Aini. Aku sama  sekali tak menyangka. Selama ini, aku belum pernah juara kelas.
  ”Ma, ternyata, dengan mengurangi main gadget, kita bisa berprestasi,  ya," kataku.     ”lya dong. Kan, Mama belajar  dari Mamanya Aini,” kata  Mama sambil
mengedipkan  mata.
   "Hah?  Pantas saja Mama  berubah aneh setelah aku cerita kebiasaan Aini, ”kataku.

  ”Awalnya memang sulit. Tapi sekarang, kamu sudah bisa membagi waktu antara belajar, bermain dengan teman, dan bermain games di gadget. Selama ini, kamu lupa belajar tapi enggak lupa main gadget,” kata Mama.
   Aku menunduk malu. ”Maafkan Syifa, ya, Ma.” Papa datang. Papa langsung takjub melihat nilaiku yang melonjak naik.
  ”Wah... Kemenangan Ini harus dirayakan. Sekarang, kita makan di luar. Selama kita makan malam, tak boleh ada gadget, kata Papa. "Jangan, Pa. Kan, Mama mau memotret makanannya dulu, candaku"
Mama menggelitik .
  Sejak hpku disita, Mama juga  lebih sibuk membaca buku. Beruntungnya aku punya Mama yang adil.  Papa tertawa "kalau buat memotret makanan, boleh Habis itu hpnya harus mati. Jangan sampai gagdet memisahkan kebersamaan kita "kata Papa. “Ok, pa" kataku sambil memeluk Papa dan Mama.                 TAMAT

Terima kasih karena teman teman sudah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Semoga teman teman dapat mengambil kesimpulan dan nilai nilai positif dari cerita tersebut.
                   
                      HAVE A NICE DAY